Thursday, January 28, 2010

100 Hari SBY-Boediono, Nasib Buruh Migran Masih Memprihatinkan

Kamis, 28/01/2010 22:40 WIB 
Aprizal Rahmatullah - detikNews


TKI (Ilustrasi)
Jakarta - Kritik terhadap pemerintahan 100 hari SBY-Boediono terus mengalir. Migrant Care menilai pemerintah masih belum memperhatikan nasib kaum pahlawan devisa ini.

"100 Hari kinerja Kabinet Indonesia Bersatu jilid kedua ditutup dengan kematian 7 orang buruh migran Indonesia dalam waktu satu hari di berbagai negara (tanggal 27 Januari)," kata Direktur Eksekutif Migrant Care, Anis Hidayah, dalam rilis yang diterima detikcom, Kamis (28/1/2010).

Anis menjelaskan, kematian mereka menggenapi angka kematian buruh migran Indonesia sepanjang 100 hari kinerja KIB II (20 Oktober hingga 27 Januari 2010) yang mencapai 171 orang. Hal tersebut memberikan gambaran bahwa nasib buruh kian hari semakin memprihatinkan.

"Fakta ini menjadi gambaran nyata bahwa sektor perlindungan buruh migran belum menjadi agenda prioritas dalam program kerja 100 hari KIB II," terangnya.

Ketidakpedulian pemerintah kepada kaum buruh, kata Anis, juga terjadi saat SBY menjabat pada periode pertama. Bahkan, hingga SBY terpilih untuk kedua kalinya, masalah buruh migran tidak juga mengalami perubahan.

"Kembalinya SBY sebagai presiden tidak memberi banyak harapan akan adanya kebijakan perlindungan yang fundamental bagi buruh migran yang nyata-nyata telah banyak menghasilkan devisa," ungkapnya.

Menurut Anis, buruh migran sepertinya tidak bisa berharap banyak dari pemerintahan SBY-Boediono. "Jajak pendapat Migrant Care di Malaysia, Singapura, dan Hongkong yang melibatkan 2.323 responden dari buruh migran menunjukkan bahwa 68 persen buruh migran tidak percaya pemerintahan SBY jilid II akan mampu memperbaiki nasib mereka," tandasnya.

(ape/nvc) 

Sumber: detikNews
http://www.detiknews.com/read/2010/01/28/224000/1288599/10/100-hari-sby-boediono-nasib-buruh-migran-masih-memprihatinkan

Friday, January 22, 2010

INFID: Pulangkan Semua TKI Lewat Terminal Umum

Nasional

JAKARTA - Kepala Divisi International NGO for Indonesia Development (INFID) Wahyu Susilo menyatakan, pemulangan melalui terminal umum di Bandara Soekarno-Hatta diharapkan tak hanya dinikmati tenaga kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di Hong Kong dan Taiwan. Dia berharap kebijakan ini diberlakukan untuk semua TKI yang bekerja di luar negeri.

Pemulangan TKI melalui terminal umum ini diujicobakan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi pekan ini untuk TKI asal Hong Kong dan Taiwan. Jika kebijakan ini dianggap berhasil, kata Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar, dua hari yang lalu, akan diterapkan secara permanen, termasuk bagi TKI yang pulang dari negara lainnya.

Menurut Wahyu, pemulangan melalui terminal khusus TKI di Bandara Soekarno-Hatta sering bermasalah. Mereka sering kali menjadi korban pemerasan dan pungutan liar. Posisi terminal khusus tersebut jauh dari pengawasan publik sehingga tidak ada yang memantau. "Di terminal TKI, mereka dimanfaatkan dan jadi korban pungutan liar," kata Wahyu kemarin.

Terminal khusus TKI, menurut Wahyu, lebih banyak memberikan kerugian. Ini dimulai dari penarikan ongkos angkutan yang lebih mahal, penukaran uang dengan nilai valas yang rendah, hingga pungutan-pungutan yang terjadi sampai mereka tiba di kampung halamannya.

Penempatan lokasi kedatangan TKI di terminal khusus, kata dia, membuat mereka diperlakukan diskriminatif. Namun, jika dicampur dengan penumpang umum, hal itu dapat diminimalkan. Lagi pula, masyarakat umum dapat ikut mengawasi proses kepulangan mereka. "Jika ada tindak kriminal, bisa ikut melaporkan," kata Wahyu. AQIDA SWAMURTI

Sumber: KORAN TEMPO
http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2010/01/22/Nasional/krn.20100122.188599.id.html